Apa Kabar Duhai Calon Suamiku

Apa Kabar Dahai Calon Suamiku? – Semoga Allah sentiasa merahmati dan memberkati dirimu yang tidak pernah kutemui, namun doaku tidak pernah putus mengiringi setiap langkahmu demi meraih keridhaan-Nya.┬áRasulullah SAW pernah bersabda: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang dapat membantu suaminya dalam urusan akhirat.” (HR. Muslim, An-Nasai dan Ibnu Majah).

Alhamdulillah, itulah anjuran Islam melalui Rasulullah SAW yang kita cintai. Pilihlah wanita yang mampu menyejukkan pandanganmu dan juga rumah tangga muslim yang bakal dibina saat menikah nanti.

Duhai calon suamiku, Rasulullah SAW juga bersabda: “Dinikahi seorang wanita karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah agamannya, maka beruntunglah kedua tanganmu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Itulah sebuah pijakan utama buatmu memilih calon isteri. Sebuah pijakan utama itu telah menjadi hafalanku sejak aku beranjak dewasa.

Duhai calon suamiku, jika harta yang engkau idamkan, maka ketahuilah diriku bukanlah orang yang berada. Tiada harta yang dapat kupersembahkan dalam ijab-kabul kita nanti. Tiada harta sebagai jaminan bahwa engkau akan menikmati sedikit kesenangan apabila ijab-kabul telah dilafazkan.

Allah SWT berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21).

Jika keturunan yang engkau dambakan, ketahuilah bahwa aku hanyalah manusia biasa dari keluarga yang biasa pula. Namun apa yang pasti. Aku adalah keturunan yang mulia, ayahanda adalah Nabi Adam a.s. dan bunda Siti Hawa a.s. sama seperti mu.

Allah SWT berfirman: “Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali-Imran: 159-160).

Kecantikan, itulah pandangan pertama setiap insan. Malah aku meyakini bahwa engkau juga tidak terlepas seperti manusia yang lainnya.

Ketahuilah wahai calon suamiku, jika kecantikan itu yang engkau inginkan dari diriku, maka engkau telah salah langkah. Tiada kecantikan yang terlihat orang lain yang dapat kupertontonkan padamu. Telah aku hijabkan, kecantikan diriku ini dengan amalan ketaatan kepada tuntutan agama yang kucintai, engkau hanya akan sia-sia jika hanya menginginkan kecantikan lahiriah semata.

Dan aku tidak dapat menjanjikan, bahwa aku mampu membahagiakan rumah tangga kita nantinya, karena aku memerlukan engkau untuk bersamaku untuk menegakkan dakwah islam ini, dan aku merelakan diri ini menjadi penolongmu untuk membangunkan sebuah markas dakwah dan tarbiyah islamiyah ke arah jihad hamba-Nya kepada Penciptanya yang agung, Allahu Rabbi.

Marilah kita jadikan pernikahan ini sebagai risalah demi meneruskan perjuangan Islam, aku masih kekurangan ilmu agama, tetapi berbekal ilmu agama yang ada ini, aku ingin menjadi istri yang senantiasa mendapat keridhaan dari Allah dan suamiku.

Apa Kabar Duhai Calon Suamiku
Apa Kabar Duhai Calon Suamiku

Hal itu tak lain untuk memudahkan aku membentuk rumah tangga muslim antara aku, engkau dan anak-anak kita nantinya untuk dibina dan diberikan pendidikan dengan ketaatan kepada Allah SWT, aku pun hanya akan bercita-cita untuk bisa bergelar pendamping sholehah bagi sang suami, seperti yang dijanjikan Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1).

Duhai calon suamiku yang dirahmati Allah.

Allah SWT berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa: 34).

Aku yakin bahwa engkau adalah pemimpin untuk diriku dan anak-anakku sebagai pewaris dakwah Islam. Maka, jadikanlah pernikahan ini nantinya sebagai asas pembangunan iman, bukannya untuk memuaskan bisikan syaitan yang menjadikan ikatan pernikahan sebagai hawa nafsu semata.

Semoga diriku dan dirimu senantiasa didampingi rahmat dan keridhaan-Nya.

Lakukanlah tanggung jawabmu itu dengan nilai kesabaran, dan ketabahan. Semoga kita akan menjadi salah satu daripada jamaah menuju ke surga, insya Allah.

Ketahuilah duhai calon suamiku, bahwa aku tidak pernah mendambakan mas kawin yang hanya akan menyebabkan hatiku buta dalam menilai arti kita dipertemukan Allah atas dasar agama.

Cukuplah seadanya, maharku adalah sebuah qalam mulia, Al-Quran, karena aku meyakini qalam itu mampu memimpin rumah tangga kita untuk meraih keridhaan-Nya, bukan kekayaan dunia yang bersifat hanya sementara.

Bantulah aku dalam memperjuangkan dakwah Allah ini melalui pernikahan, karena ia adalah tempat untuk aku menyempurnakan separuh daripada agamaku, insya Allah.

Akhlakmu yang terdidik indah oleh ibu bapa dan orang sekelilingmu, itulah yang aku harapkan daripada harta duniawi yang ingin kau sediakan untukku.

Duhai calon suamiku, lihatlah rumah tangga Rasulullah SAW, terkadang sebulan pernah dapurnya tidak berasap karena tidak ada bahan makanan yang dapat dimasak. Namun, walau begitu susahnya, rumah tangga Rasulullah SAW tetap menjadi rumah tangga yang paling bahagia, yang tidak ada bandingnya hingga hari ini.

Terlalu panjang rasanya aku mencoretkan surat ini. Cukuplah dahulu aku buat surat ini, inilah sekilas harapan yang ku ukirkan dalam rangkaian kata.

Kelak, saat kita telah bersama, maka di situlah kau akan memahami diriku, sama halnya diriku yang akan terus belajar memahamimu.

Yaa Allah, sesungguhnya hamba lemah tanpa Petunjuk-Mu, hamba buta tanpa bimbingan-Mu, hamba cacat tanpa Hidayah-Mu, hamba hina tanpa Rahmat-Mu.”

Yaa Allah, kuatkan hati dan semangat hamba, tabahkan hamba menghadapi segala cobaan-Mu,
jadikanlah hamba kelak, sebagai Istri yang di senangi Suami, bukakanlah hati hamba untuk menghayati Agama-Mu, bimbinglah hamba agar menjadi Istri yang sholehah
.”

(Baca Juga: Aku Akan Setia Untukmu Selamanya)

Baca juga tulisan berikut ini: